Syahdu Itu Ada di Festival Kampung Syahdu Lantung

Syahdu Itu Ada di Festival Kampung Syahdu Lantung

238
0
BAGIKAN

Sumbawa Besar–Untuk pertama kalinya di Kabupaten Sumbawa, NTB, empat Desa di Kecamatan Lantung, menyelenggarakan kegiatan Festival yang bertajuk Festival Kampung Syahdu (FKS) sejak Jumat (17/11/2017) hingga Ahad (19/11/2017).

Mengusung tema Back To The Past, FKS 2017 menjadi starting point atau titik awal untuk menggeliatnya potensi pariwisata di Kabupaten Sumbawa khususnya di Kecamatan Lantung yang selama ini belum tergarap maksimal.

Keramahan dan cita rasa pedesaan Sumbawa tempo dulu menjadi suguhan utama dalam rangkaian FKS ini. Hal ini diaktualisasikan sejak para tamu memasuki kawasan FKS. Para tamu yang berasal dari berbagai kalangan diajak bernostalgia dan terlibat langsung dalam situasi pasar tradisional yang dikemas dengan nama Amat Lajendre yang berlokasi di Desa Ai Mual.

Berbagai sajian kuliner andalan dan khas Lantung menjadi sajian utama yang dapat dinikmati para tamu. Misalnya saja, Bulu Berai, Me Lege Kuning plus Gecok, Tepung Sate, Timung Lantung, Jadi Poteng, Wajik Parku, Rujak Ganista, Jajanan Telle Tamoar, Ketabang Telak Ai Aning dan Rujak Ara.

Adapun boot minuman terdiri dari Lantung Original Mint, Es Ai Aning, Kawa Aning, Juice Lantung Tekar dan Minuman Syahdu.

Memasuki area berikutnya, para tamu diajak berkeliling menikmati indahnya kampung pelangi di Desa Lantung. Di Desa ini, deretan rumah warga nampak cantik dengan berbagai warna-warni pelangi. Tanaman sayur dan buah yang sengaja ditempatkan di sekitar pekarangan rumah menambah keindahan kampung pelangi. Kegiatan berkeliling kampung pelangi dikenal dengan istilah Under The Rainbow

Malam harinya, disajikan kegiatan Sarembang Syahdu yang dipusatkan di Lenang Indah, Desa Sepukur. Lenang Indah merupakan sebuah bukit sabana dan salah satu objek wisata andalan Lantung. Di Lenang Indah, pengunjung dapat menikmati syahdunya alam.

Di lokasi ini panitia menyajikan atraksi budaya tradisional. Seperti sarakal, barzanji, gero saketa musical dan sejumlah tarian lokal yang dibawa oleh warga setempat.

Begitu memikatnya kegiatan malam hari ini begitu menyedot perhatian masyarakat yang tidak hanya berdatangan dari Lantung dan sekitarnya, namun juga dari Kecamatan lain dan tentunya tamu atau pengunjung dari luar.

Pagi harinya, Sabtu (18/11/2017), para tamu diajak merasakan sensasi berkuda yang dikemas dalam item kegiatan field trip di sekitar Desa Padesa dan Desa Sepukur.

Ada yang berbeda dengan wisata berkuda yang kerap diadakan di daerah atau Kabupaten lain karena kuda yang digunakan adalah kuda poni yang memang menjadi moda transportasi andalan di Lantung sejak tempo dulu hingga masa kekinian.

Karena harus mempersiapkan diri memasuki Kampung Syahdu yang dipusatkan di Desa Padesa, serunya berkuda harus rela ditinggalkan sembari rehat sejenak untuk makan siang hingga tibanya memasuki Kampung Syahdu.

Waktu memasuki Kampung Syahdu pun tiba, para tamu bergegas ke lokasi persiapan. Tidak lama berselang, beberapa orang gadis muda mempersembahkan tarian Lajendre sebagai symbol penghormatan bagi para tamu Desa.

Setelah beberapa saat menikmati sajian tarian Lajendre, para tamu melanjutkan perjalanan menuju Kampung Syahdu di Desa Padesa. Selama di perjalanan, mereka sudah ditunggu para penabuh Palompong yang berjarak 50 meter satu sama lain hingga menjelang titik gerbang masuk Kampung Syahdu.

Di muka gerbang Kampung Syahdu, sudah menunggu para orang tua dan para ibu yang menggunakan pakaian tradisional sembari menembangkan sarakal. Tidak hanya itu, para tamu kemudian diodak atau diluluri di bagian wajah menggunakan odak yang berfungsi sebagai lulur dan masker alami. Proses ini disebut dengan barodak medo bura.

Kemudian para tamu memasuki lokasi Kampung Syahdu sambil diiringi dengan Gero oleh para tetua adat setempat.

Di Kampung Syahdu, para tamu bermalam untuk menikmati kesyahduan di malam hari yang sengaja diset sedemikian rupa seperti masa lampau tanpa adanya aliran listrik. Pencahayaan kampung hanya mengandalkan obor dan api unggun yang dinyalakan di setiap halaman rumah warga setempat.

Santap malam pun menjadi kegiatan berikutnya para tamu di rumah tempat menginap (homestay) yang telah disiapkan.

Sebelum tidur, pemilik rumah menembangkan liser pasatotang bagi tamunya. Berisikan nasehat dan pesan-pesan kehidupan.

Sementara itu, di luar rumah terdengar suara sakeco yang ditembangkan oleh dua orang pria. Sakeco merupakan semacam syair Sumbawa yang berisi petuah, cerita rakyat maupun pesan agama dan moral.

Di sudut lain Kampung Syahdu juga terdengar suara tabuhan Palompong yang memang menjadi kebiasaan masyarakat mengisi waktu luang.

Camat Lantung, Iwan Sofian, menyebutkan bahwa Festival Kampung Syahdu dihajatkan sebagaimana yang dikreasikan tim riset yang telah dibentuk sejak dua bulan yang lalu. Juga atas hasil konsultasi pihaknya dengan Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) maupun Dewan Kesenian serta Dinas Pariwisata.

“Atas dasar itu, tim riset bergerak di tengah masyarakat di Kecamatan Lantung. Apa yang kami lakukan adalah manifestasi kekuatan masyarakat Kecamatan Lantung menghadirkan kesyahduan dan keramahan maupun semangat dalam rangka mengeksplorasi diri,” ujar Camat Beprestasi tahun 2015 tersebut.

Sehingga tegas Iwan Sofian, masyarakat Kecamatan Lantung mampu mensejajarkan diri dengan Kecamatan-Kecamatan di seluruh wilayah Kabupaten Sumbawa.

Apresiasi khusus juga Camat Lantung sampaikan kepada para kru tim kreatif yang telah melakukan riset dan panitia lokal yang telah bekerjasama. Tentu juga dengan dorongan serta partisipasi Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata.

Anggaran kegiatan ini berkolaborasi antara Dana Desa di empat Desa dan Dana di Kecamatan Lantung. Insya Allah tahun depan masing-masing Desa akan menyelenggarakan Festival di wilayah masing-masing, Camat Lantung.

Dia berharap, ajang Festival Kampung Syahdu tersebut ke depan menjadi salah satu respresentasi bagi Kabupaten Sumbawa yang bisa dijual bersama seluruh wilayah yang ada di Kabupaten Sumbawa.

Bupati Sumbawa melalui Asisten III Setda Sumbawa, A. Rahim, berpendapat bahwa Festival ini merupakan ajang untuk mempertahankan budaya masyarakat Sumbawa.

“Salah satu diantaranya adalah merevitalisasi kembali budaya Sumbawa melalui rangkaian kegiatan yang terangkum dalam kegiatan Festival Kampung Syahdu ini,” tegas Asisten III Setda Sumbawa.

Agar sambung Asisten III, para generasi muda Sumbawa dapat mengenal dengan baik budaya daerahnya sendiri.

Kepada para panitia, seniman, budayawan dan masyarakat Kecamatan Lantung, kata Asisten III, disampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya sebagai upaya mempertahankan warisan budaya leluhur dan membawa daerah ini menjadi lebih maju. (bs/01)

TINGGALKAN KOMENTAR