Home Bencana Alam Peduli Korban Gempa, Inilah Upaya IBI di Sumbawa

Peduli Korban Gempa, Inilah Upaya IBI di Sumbawa

124
0

Sumbawa Besar–Ikatan Bidan Indonesia Cabang Sumbawa (IBI), ikut menaruh simpati terhadap para pengunsi korban gempabumi di Kecamatan Buer, Alas dan Barat maupun  kebakaran di Pulau Bungin.

IBI secara khusus juga memberi bantuan kepada 19 bidan yang terkena dampak gempa.

Ketua PC IBI Sumbawa–Ummi Kalsum, kepada media ini menjelaskan bahwa pelayanan kesehatan yang sudah terjadwal bersama Dikes, masuk dalam tim. IBI juga terjun langsung ke sasaran  di 3 Kecamatan untuk melakukan trauma healing, SDIDTK dan PMBA.

IBI melaksanakan kegiatan peduli korban gempa dalam masa tanggap darurat dan masa transisi antara lain ke lokasi terdampak gempa di beberapa titik antara lain di Kecamatan Buer 2 titik (Tarusa, Propok Buin Baru) 2 Kecamatan Alas 2 titik (Posko Kesehatan dan Pulau Bungin) Kecamatan Alas Barat (Labuhan Mapin, Posko Utama Kantor Camat).

“Kegiatanya berupa Trauma Healing dengan anak-anak korban gempa, edukasi kesehatan cara mencuci tangan yang baik dan benar, pola hidup bersih sehat, bermain bersama-sama, pembagian parcel anak-anak roti dan susu-susu siap saji, nasi bungkus untuk warga korban gempa, makanan siap saji lainnya, air mineral, beras, pakaian, dan lain-lain,” tambah Humas PC IBI Sumbawa–Maria Ulva.

Tujuannya jelas Ulva agar ketakutan anak-anak berkurang terhadap gempa dengan informasi yang dikemas melalui lagu terhadal apa yang harus dlakukan ketika gempa. Selain itu, membangkitkan gairah anak-anak untuk terus mau belajar meski di pengungsian dengan sekolah daruratnya.

“IBI juga memberikan pengetahuan Wawasan kebangsaan dengan tahu nama Kepala Desa, Camat, Bupati  hingga bidan Desa setempat. IBI pun menumbuhkan semangat kebersamaan dan senasib sepenanggungan dalam menghadapi musibah dan ujian,” ulasnya.

Selanjutnya papar Ulva, IBI pun melakuka

SDIDTK ( Stimulasi Deteksi Intervensi Dini Tumbuh Kembang) anak, dilaksanakan terhadap anak usia 0-6 tahun yaitu upaya stimulan melalui pemeriksaan dengan checklist terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak

dengan mengukur berat badan, tinggi badan, dan pemeriksaan motorik halus, motorik kasar, bicara bahasa, sosial kemandirian anak.

Tujuannya untuk mengetahui dan menscreening gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak-anak tersebut sehinga didapatkan hasil diagnosis sesuai, meragukan, dan menyimpang.

“Kalau diagnosis sesuai berarti stimulasi yang selama ini dilakukan orang tua dilanjutkan karena sudah bagus. Kalau diagnosis meragukan maka orang tua diajarkan cara menstimulasi anak selama 2 mggu dilakukan di rumah. Lalu dilaksanakan pemeriksaan ulang kembali SDIDTKnya kepada Bidan Desa setempat atau Puskesmas,” papar Maria Ulva.

Terkait kegiatan PMBA, IBI memberikan makan bayi dan anak. Anak mulai bisa makan mulai usia 6 bulan. Namun banyak di antara ibu-ibu dan pengasuh yang memberi makan asal saja tanpa mengetahui kandungannya, jumlahnya dan jenisnya.

Maka PMBA diedukasi dan langsung dipraktikan di tempat cara pembuatannya dan dilanjutkan dengan makan bersama. Diharapkan meski di tempat pengungsian, ibu-ibu tetap bisa menyiasati pemberian makan yang terstandar kepada anaknya. (bs/01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here