Home Sosial Budaya Diserang Warga Net, Desainer Busana Fashion Street Sail Moyo Tambora Ngaku Salah

Diserang Warga Net, Desainer Busana Fashion Street Sail Moyo Tambora Ngaku Salah

3356
0

Sumbawa Besar–Ali Agsyah, salah seorang tim desainer busana Fashion Street Fest Sail Moyo Tambora akhirnya angkat bicara mengenai polemik busana yang ditampilkan pada perhelatan tersebut pada Rabu (12/09/2018)

Terkait dengan maraknya pemberitaan di media, baik cetak maupun elektronik terkait acara yang menjadi salah satu bagian dari rangkaian Sail Moyo Tambora 2018 yaitu Tenun dan Fashion Street Fest, dirinya mewakili semua desainer yang terlibat ingin menceritakan tentang konsep dari acara fashion show tersebut :

1. Acara pada malam itu diawali dengan penyajian sebuah tarian mistis yaitu tarian Dulang Pasangka yang dibawa oleh Sanggar Seni Riam Bagentar Desa Sebasang Kecamatan Moyo Hulu. Yang memiliki makna rasa syukur, rasa sukacita atas nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

2. Setelah penyajian itu, muncul 6 (enam) model memperagakan busana adat Sumbawa yaitu pakaian Sumbawa Salonang Antin, Busana Lonas Pabite, Busana Lante Gadu, Busana Ceremonial of Barodak, Busana Pangantan Basapu, dan Busana Palace Style. Dan dilanjutkan dengan parade kreasi kre alang yang diperagakan oleh ibu-ibu yang aktif di organisasi kewanitaan dan memiliki minat terhadap dunia fashion. Dua peragaan ini menggambarkan awal dimulainya sebuah peradaban yang berlandaskan budaya, spiritual, ketuhanan.

3. Setelah dua penyajian peragaan tersebut, muncul kelompok anak yang mempresentasikan gaun berbahan dasar tenun khas Sumbawa dan Bima. Disini kita menggambarkan keceriaan dari dunia anak-anak. Dari sini kami ingin menceritakan bahwa anak-anak akan membawa peradaban ini menuju ke hal yang lebih baik sebagai harapan dan dibekali dengan nilai-nilai budaya serta kearifan lokal.

4. Di peragaan ke empat kami menampilkan 3 model gadis remaja dan 10 model pria remaja, disini kami menceritakan tentang kehidupan remaja, yang tidak bisa kita pungkiri bahwa walaupun kita sudah membekali mereka dengan pendidikan aklaq, tapi setelah mereka menuju ke usia remaja, pengaruh dari lingkungan sangat berpengaruh terhadap pergaulan mereka. Inilah yang kami ceritakan melalui karya kami.

5. Peragaan selanjutnya, kita masuk kepada titik terendah kehidupan berupa manusia. Kami mengambil contoh bencana yang sedang menimpa NTB. Melalui 3 karya futuristic yang memiliki detail yang tidak biasa dan tidak beraturan yang menceritakan tentang bencana gempa yang baru saja menimpa NTB.

6. Selanjutnya peragaan ditampilkan dengan menghadirkan 5 model pria membawakan busana formal berbahan tenun NTB. Disini menjadi salah satu cara menceritakan tentang titik balik manusia setelah terkena bencana, memunculkan semangat untuk mencari lagi peradaban yang hampir hilang. Disini juga kita menampilkan 8 koleksi busana pesta modifikasi berbahan dasar tenun NTB dengan konsep muslimah. Yang mana kita menceritakan bahwa Sumbawa tidak buta dan mampu menerima gempuran globalisasi yang modern, namun tetap berpegang teguh pada syariat dan adat istiadat, dimana kita juga sangat memahami falsafah hidup Tau Samawa ADAT BARENTI KO SARA, SARA BARENTI KO KITABULLAH.

7. Dan terakhir show ditutup dengan penampilan 8 koleksi busana karya desainer Provinsi dan 10 koleksi busana karya desainer Nasional yang semuanya bertemakan busana pesta muslimah.

“Di atas saya menceritakan konsep pagelaran yang dilaksanakan pada hari rabu, 12 september 2018 kemarin. Namun setelah pelaksanaannya, banyak muncul stigma negatif dari masyarakat, terutama warga net. Terkait salah satu dari koleksi kita yang dikatakan melanggar syariat yang ada di tana samawa,” sebut Ali.

Dari hal ini, pihaknya menyadari bahwa kami kecolongan dan sangat sangat menyadari bahwa ini murni kesalahan pihaknya.

Busana yang diperdebatkan sebenarnya bentukannya bukan seperti yang beredar saat ini, tapi timnya mendesain busana tersebut dengan menutup belahan, dan sayangnya tutupan belahan tersebut dibuat terpisah, dan ketika show akan dimulai, ternyata tutupan belahan tersebut ketinggalan di galeri desainer dan waktu tidak memungkinkan untuk mengambilnya, karena show segera dimulai.

“Melalui press release ini saya mewakili teman-teman desainer yang tergabung dalam Sumbawa Fashion Community (SFC) memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Kabupaten Sumbawa dan masyarakat Sumbawa atas ketidaknyamanan terkait hal tesebut,” tambah Ali.

Dia menambahkan akan menjadikan hal ini sebagai suatu pembelajaran yang sangat berharga agar dikesempatan lainnya tidak akan mengulang hal tersebut, dan lebih memahami etika dan estika berbusana Tau Samawa. (bs/01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here