Home Pariwisata Ada Festival Kampung Syahdu, Ayo Segera Mendaftar

Ada Festival Kampung Syahdu, Ayo Segera Mendaftar

410
0

Sumbawa Besar–Masyarakat di empat Desa di Kecamatan Lantung, Desa Lantung, Desa Ai Mual, Desa Padesa dan Desa Sepukur, akan menyajikan sensasi kesyahduaan di dalam event Festival Kampung Syahdu Lantung.

Festival yang merupakan bagian dari Festival Pesona Moyo tersebut, akan diadakan pada 17 hingga 19 Nopember 2017. Keunikan dan kekhasan tradisi masyarakat Sumbawa tempo dulu akan flashback kembali sesuai dengan tagline Festival Kampung Syahdu Back To The Past.

Camat Lantung, Iwan Sofian, mengutarakan bahwa festival ini akan dikemas secara ekslusif yang mana para tamu diwajibkan untuk registrasi dengan membayar sesuai tarif yang akan dikenakan selama tiga hari kegiatan. Selama tiga hari kegiatan, para tamu akan mendapatkan service langsung dari pemilik rumah tempat menginap (homestay).

“Kami akan kemas secara ekslusif, para calon tamu harus mendaftar terlebih dulu untuk ikut Festival Kampung Syahdu ini. Selama di event ini, semua tamu akan dilayani maksimal. Kami jamin festival seperti ini hanya ada di Lantung, maka silahkan mengikuti ya,” sebut Iwan Sofian.

Lalu bagaimana dengan anda yang ingin ikut menikmati kesyahduan Lantung? Jangan khawatir karena penyelenggara juga mempersilahkan untuk menikmati dengan cara camping di spot indah bernama Lutuk Kebo yakni sebuah Sabana yang juga dikenal dengan nama Lenang Indah.

Di hari pertama, Jumat (17/11/2017), para peserta atau tamu akan melakukan registrasi di pintu masuk (Lawang Desa) Desa Lantung pada pukul 14.00 s.d 17.00 WITA dan akan mendapatkan booklet yang berisi jadwal setiap konten kegiatan. Booklet tersebut dilengkapi dengan denah lokasi, deskripsi kegiatan dan panduan teknis tentang keberlangsungan setiap item kegiatan.

Amat Lajendre

Setelah melakukan registrasi, para tamu akan diarahkan untuk berbelanja di Amat Lajendre yakni sebuah pasar jajanan tradisional. Penamaan Lajendre merujuk pada nama seorang putri cantik di Kecamatan Lantung tempo dulu yang namanya kini melegenda.

Amat Lajendre sebagai rangkaian acara festival kampung syahdu yang diposisikan sebagai aktifitas pembuka Festival Kampung Syahdu yang berada di Lawang Desa dekat dengan lokasi registasi.

Beramat (berbelanja di pasar) disituasikan sebagai rangkaian pembuka kegiatan setelah proses registrasi. Jajanan tradisional yang didisplay layaknya pasar tradisional khas Sumbawa tempo dulu lengkap dengan papan penjelasan yang bercerita tentang makna filosofis dan sejarah dari setiap jajanan yang dijual.

Bentuk pasar yang natural dengan design sedemikian rupa sehingga membentuk pasar yang sangat artistik namun syarat akan unsur entertainment dan edukasi kebudayaan Tau Samawa (Suku Sumbawa). Beramat sengaja dihadirkan setelah proses registrasi bertujuan sebagai cara untuk mengantisipasi kepadatan pada proses registrasi.

Kuliner yang dapat dinikmati di Amat Lajendre terdiri dari 10 boot pedagang jajanan khas dan 5 minuman khas. Antara lain, booth makanan berupa Bulu Berai, Me Lege Kuning plus Gecok, Tepung Sate, Timung Lantung, Jadi Poteng, Wajik Parku, Rujak Ganista, Jajanan Telle Tamoar, Ketabang Telak Ai Aning dan Rujak Ara.

Adapun boot minuman terdiri dari Lantung Original Mint, Es Ai Aning, Kawa Aning, Juice Lantung Tekar dan Minuman Syahdu.

Around the Rainbow

Around the rainbow berisikan kegian berkeliling kampung pelangi dan menikmati sajian agrowisata yang ada di Desa Lantung dan Ai Mual, setelah para tamu menikmati sajian kuliner di Amat Lajendre.

Konten ini mengajak para tamu untuk dapat merasakan sensasi berpetualang di atas sebuah pelangi dengan melihat wujud dari bangunan rumah masyarakat Lantung yang direkayasa layaknya pelangi yang menghiasi langit yang biru.

Selain rumah-rumah pelangi, bak segarnya udara di atas awan, sayuran organik segar yang menghiasi sisi depan dari rumah warga dapat menjadi suguhan pelengkap dari para tamu dalam mengikuti kegian around the rainbow.

Dalam kegiatan ini, selain sisi hiburan yang menarik dari rumah pelangi, tamu dapat berinteraksi kepada warga dengan melakukan penanaman bibit tanaman organik bersama dan para tamu dapat membeli tanaman organik milik warga.

Malam Pagelaran Sarembang Syahdu

Malam harinya, para tamu akan disuguhkan dengan item kegiatan Sarembang Syahdu, yang merupakan pagelaran seni dirangkaikan dengan ceremonial pembuakaan event Festival Kampung Syahdu di Lenang Indah.

Di Sarembang Syahdu ini, para tamu akan disuguhkan pameran foto karya fotografer professional yang menghadirkan karya foto yang bercerita tentang setiap materi acara pada Festival Kampung Syahdu.

Lalu, para tamu juga akan menikmati Baserakal yang akan dilakukan di panggung satu dan akan mengiringi acara pameran tersebut. Usai itu, dilanjutkan dengan Barsanji Teatrikal yang berisikan nilai-nilai kehidupan dan dikisahkan dengan nyanyian bermelodikan Sumbawa. Dalam pelaksanaannya naskah barsanji akan diilustrasikan dalam bentuk teatrikal agar memudahkan para penonton atau tamu dalam memahami isi naskah.

Di malam yang sama, para tamu juga akan disajikan Gero Saketa Musikal yakni sebuah tembang nyanyian sebagai spirit dalam aktivitas masyarakat Sumbawa ketika melakukan gotong royong.

Usai seremoni pembukaan Festival Kampung Syahdu, maka para tamu akan kembali ke penginapan masing-masing untuk beristirahat total.

Mangan Basapera, Field Trip Wisata Berkuda, Mangan Barema, dan Sound of Palompong

Memasuki hari kedua, rangkaian Festival Kampung Syahdu selanjutnya diawali dengan sarapan ala Tau Samawa yang dikenal dengan sebutan Mangan Basapera. Kebiasaan atau tradisi ini lazim dilakukan untuk pengganjal perut, khusus di Lantung akan menggunakan Ketabang Kela (ubi kayu yang direbus) dan Tele Tamoar (umbian) yang berada di Lantung. Kedua menu ini akan disajikan bersamaan dengan air madu agar semakin nikmat disantap. Menu ini sengaja dipilih sebagai kudapan ketika sarapan pagi oleh masyarakat Sumbawa agar lahap ketika makan siang.

Kegiatan Basapera ini dilakukan di setiap rumah warga dan dilaksanakan oleh masing masing pemilik rumah guna memfasilitasi tamunya dengan menu Ketabang Kela telak Ai Aning atau air madu sebagai menu sarapan sebelum melakukan agenda kegiatan berikutnya.

Usai basapera maka kegiatan selanjutnya mengikuti wisata berkuda yang dibungkus dengan sebutan Field Trip sejak pukul 08.00 WITA hingga 13.00 WITA. Para tamu akan mengelilingi sejumlah objek wisata unggulan yang telah disiapkan penyelenggara.

Setelah seharian berwisata berkuda dan dalam keadaan perut lapar, para tamu akan diajak makan siang bersama oleh pemilik rumah yang didalam bahasa Sumbawa berarti Mangan Barema dengan menggelar kain putih sebagai simbol kesucian, keikhlasan dan kebersamaan antara pemilik rumah dan tamu. Lokasi Mangan Barema dipusatkan di Desa Lantung dan Ai Mual.

Menu yang akan disajikan antara lain kuliner tradisional Sumbawa seperti Sepat, Pindang Belek dan olahan sayuran organik.

Di malam harinya nanti, para tamu akan diajak menuju Kampung Syahdu di Desa Padesa. Sebelum menuju Kampung Syahdu, para tamu akan dipersiapkan terlebih dahulu di Kantor Camat setempat sekitar pukul 14.00 WITA sampai dengan 15.00 WITA.

Setelah tiba waktu yang ditentukan untuk menuju Kampung Syahdu, para tamu akan diarahkan ke lokasi dimaksud sembari diiringi suara alat musik yang disebut Palompong. Inilah yang dinamakan Sound of Palompong.

Palompong di masa lalu adalah alat komunikasi jarak jauh antara masyarakat dalam rumah dengan masyarakat di rumah lainnya. Palompong digunakan sebagai aktifitas mengisi waktu luang mengusir kesepian dan ruang komunikasi.

Wujud pelaksanaan teknis Sound of Palompong yaitu, 20 hingga 30 orang akan membunyikan Palompong bersautan di sepanjang jalan menuju Desa Padesa. Bunyian suara Palompong tersebut yang mengiringi para peserta malam Syahdu menuju Kampung Syahdu di Desa Padesa.

Setiap pemain Palompong akan diposisikan di titik-titik yang telah ditentukan di sepanjang jalan menuju Desa Padesa dengan kelengkapan seperti satu set Palompong, pantar kecil sebagai tempat duduk pemain Palompong, Payung Kadewa sebagai alat peneduh saat memainkan Palompong. Para pemain Palompong mengenakan pakaian Sumbawa lengkap berwarna putih.

Barodak Medo Bura

Item yang satu ini merupakan prosesi pembersihan diri dan penyucian jiwa, yang mengandung obat-obatan agar terhindar dari serangan magis dan keburukan lainnya.

Setibanya tamu di Kampung Syahdu Desa Padesa, mereka akan diarahkan ke rumah-rumah warga sesuai dengan data yang disusun panitia. Ritual pertama yang akan para tamu lakukan setelah mereka mendapatkan rumah syahdunya adalah prosesi pembersihan diri menggunakan Ai Buin Lajendre yang terdapat pada bong di depan tangga rumah.

Pasukan pembawa odak (sejenis luluran tradisional Sumbawa) akan mendatangi setiap rumah untuk memberikan odak Medo Bura kepada pemilik rumah. Pasukan tersebut terdiri dari pembawa odak, pembawa payung kadewa dan pelantun badia. Pasukan ini akan dibagi menjadi 6 kelompok dan disebar untuk memerikan odak sesuai rumah tujuan yang sudah di susun. Setelah odak diterima oleh pemilik rumah, barulah prosesi barodak dimulai. Orang yang akan menjadi Ina Odak adalah ibu dari pemilik rumah. Kemudian Ina Odak mulai mengenakan odak medo bura tersebut kepada pengunjung yang menjadi tamu di rumahnya.

Prosesi terakhir pada sesi barodak ini adalah membersihkan diri dari odak yang dikenakan tadi sebelum adzan magrib tiba kemudian dilanjutkan dengan beribadah.

Liser Pasatotang

Di rumah tempat menginap para tamu akan saling berinteraksi dengan pemilik rumah yang dikemas dengan istilah Liser Pasatotang. Dalam Liser Pasatotang ini, pemilik rumah atau Baeng Bale akan mengajak tamunya untuk saling mencurahkan isi hati mereka tentang kehidupannya selama ini. Kemudian Baeng Bale memberikan diary pasatotang kepada tamunya tersebut dan meminta tamunya menuliskan harapannya untuk Desa mereka tercinta.

Samawa dan Barantat

Memasuki hari terakhir pada 19 Nopember 2017, di hari ketiga ini menjadi hari perpisahan para tamu dan pemilik rumah tempat menginap. Karena setiap tamu bagi Tau Samawa adalah keluarga, seperti yang terungkap dalam Lawas Sumbawa Mana tau barang kayu, lamen to sanyaman ate, ba nan si sanak parana yang artinya Walaupun orang yang berasal dari tempat yang tidak diketahui tapi memberikan kebahagian maka dialah sanak saudara. Sehingga ketika para tamu yang pulang kembali ke kampung halaman, maka dalam tradisi Tau Samawa selalu memberi buah tangan yang diistilahkan Samawa, tu samole samawa/samentan.

Samawa dilakukan setelah pagi tiba dan pemilik rumah selesai memberikan pelayanan terakhir mereka berupa sarapan. Maka tibalah saat tamu tersebut pamit untuk kembali ke tempat asalnya masing-masing. Di moment ini baeng bale atau pemilik rumah akan memberikan kenang-kenangan kepada tamunya tersebut berupa Palompong Lantung dan kemudian dibalas oleh tamu tersebut dengan memberikan diary pasatotang berisi harapan mereka akan lantung yang telah ditulisnya semalam.

Prosesi ini dilakukan di bawah rumah, tepatnya di depan tangga halaman rumah mereka. Palompong yang menjadi buah tangan tadi kemudian dibunyikan untuk memanggil tamu lainnya, untuk mengajak mereka untuk pulang bersama.

Barantat

Merupakan tradisi Tau Samawa dalam mengantar tamu karena tamu bagi Tau Samawa adalah bagian dari keluarga mereka dengan harapan mereka bisa kembali suatu saat nanti.

Di dalam prosesi Barantat ini, perwakilan masyarakat Kampung Syahdu Desa Padesa akan mengantar mereka menuju Desa Lantung dan Ai Mual. Sesampainya di Desa Lantung dan Desa Ai Mual, mereka akan diantar oleh masyarakat Desa dan Demung atau Camat menuju Lawang Desa. Di lawang desa itulah seremonial singkat penutupan Festival Kampung Syahdu oleh Demung, dengan memberikan pidato terima kasih dan selamat jalan. (Ken)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here