Home Ekonomi Pemilik Toko Harapan Baru Somasi PT BSAM

Pemilik Toko Harapan Baru Somasi PT BSAM

423
0

Sumbawa Besar—Karena merasa dirugikan oleh pihak asuransi PT Brins General Insurance (PT BSAM), pemilik toko Harapan Baru—Lusy bersama suaminya—Atun Yunadi, melayangkan somasi tertanggal 23 Januari 2019.

Di dalam somasi yang dilayangkan tersebut, pihaknya berpendapat bahwa sesuai dengan putusan Pengadilan Niaga Pada Pengadilan Negeri Surabaya dengan nomor perkara 35/Pailit/2012/PN.Niaga.Sby, tertanggal 23 September 2013, yang menyatakan pihaknya pailit, pihaknya sangat dirugikan baik secara materil maupun in materil sampai somasi ini diajukan kepada PT BSAM.

Dalam hal ini pihaknya menilai bahwa PT BSAM memaksa diri menjadi kreditur kedua (fiktif) dari hutang piutang pihaknya. Untuk memenuhi syarat mutlak seseorang atau badan hukum dapat dinyatakan pailit sesuai dengan ketentuan pasal 2 ayat 1 UU nomor 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU oleh induk perusahaan PT BSAM yaitu PT BRI C

abang Sumbawa. Sementara dalam Undang-Undang Kepailitan dan PKPU nomor 37 tahun 2004 tersebut tidak mengenal/tidak diatur asuransi sebagai kreditur  karena tidak ada satu pasal pun yang menyebutkan asuransi adalah kreditur.

“Bahwa dasar putusan tersebut kami dinyatakan Pailit karena hutang tak terbayar kami kepada PT BSAM sebagai kreditur kedua sebesar Rp 70.327.853. Berdasarkan atas dasar itulah kami dengan tegas meminta kepada PT BSAM tentang kejelasan hutang kami yang menyebabkan kami dinyatakan pailit,” imbuh Lusy.

Selain itu, Lusy juga mempertanyakan mengapa PT BSAM tidak pernah hadir saat persidangan maupun saat pergantian kurator.

Menurut Lusy, hal ini sengaja disampaikan karena masalah tersebut sudah lama dan berlarut-larut. Karena tidak ada kejelasan yang seolah-olah disengaja untuk menghancurkan usaha yang dia rintis yang secara fakta tidak bangkrut dan di atas solyen.

“Maka melalui somasi ini kami meminta tanggung jawab dari PT BSAM atas masalah kami ini dan apabila PT BSAM tidak bergeming atas permasalahan tersebut, dengan terpaksa kami akan menempuh jalur hukum baik perdata maupun pidana,” tegasnya.

Tagihan pembayaran asuransi.

Lusy pun mengungkapkan bahwa dirinya oleh PT BSAM dianggap tidak pernah membayar asuransi, padahal dia pernah membayar sebesar 31 juta rupiah pada 23 Agustus tahun 2010 namun sampai hari ini tidak menerima polisnya.

Bukti pembayaran asuransi ke PTBSAM.

Selain itu, dia juga dicap tidak mau membayar sebesar 72 juta padahal dia berniat untuk membayar namun pihak asuransi menolak dan tidak berani menerima pembayaran tersebut.

Tagihan pembayaran asuransi.

Belakangan pada 15 Agustus tahun 2018, Lusy ditagih untuk membayar 31 juta oleh PT BSAM melalui Bank BRI. (bs/01)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here