Home Ekonomi OJK Pertemukan Perbankan Sumbawa dan Nasabah Korban Kebakaran Pasar Seketeng

OJK Pertemukan Perbankan Sumbawa dan Nasabah Korban Kebakaran Pasar Seketeng

52
0

Sumbawa Besar–Siang itu Pak Budi, salah satu dari beberapa perwakilan nasabah korban kebakaran Pasar Seketeng, menyampaikan keluh kesahnya setelah kebakaran besar yangg meluluhlantakkan dua kios beserta isinya di Pasar Seketeng Sumbawa.

Sorot matanya menandakan duka yang teramat dalam. Namun tidak tahu harus bagaimana membangun kembali usahanya, sementara semua barang terbakar dan belum bisa berjualan karena kondisi pasar masih hangus.

Pak Budi tidak sendirian. Ratusan pedagang Pasar Seketeng Sumbawa menjadi korban pasca musibah kebakaran pada hari Rabu, 23 Januari 2019. Puluhan lapak dan kios tempat berjualan sebagai sumber mata pencaharian ludes terbakar, termasuk modal usaha berupa barang dan uang.

Di sisi lain, sebagian besar pedagang merupakan debitur pembiayaan. Sebagai respon atas musibah yang terjadi, Otoritas Jasa Keuangan mengadakan pertemuan dengan perwakilan pedagang dan pimpinan industri jasa keuangan (IJK) pada hari Kamis, (31/01/2019) di Sumbawa Besar.

Pada kesempatan tersebut, OJK meminta konfirmasi jumlah debitur dan outstanding pembiayaan pedagang korban kebakaran kepada pimpinan IJK.

Berdasarkan data yang disampaikan dari 8 IJK, terdapat 279 debitur korban dengan total pembiayaan sebesar 35,78 milyar rupiah. Semua nasabah yang menjadi korban kebakaran merupakan nasabah bagus, karena semua nasabah tersebut memiliki kualitas kredit lancar.

Untuk itu, Kepala OJK Provinsi NTB Farid Faletehan menghimbau kepada IJK terkait untuk dapat memberikan restrukturisasi pembiayaan kepada para pedagang yang menjadi korban, sesuai dengan kewenangan IJK dan ketentuan internal masing-masing IJK.

“Seluruh pimpinan IJK yang hadir pun menyampaikan komitmennya untuk dapat membantu meringankan beban yang ditanggung oleh para korban,” ungkap Kepala OJK Perwakilan Mataram, Farid Feletehan.

Apalagi mereka merupakan nasabah yang selama ini angsurannya tergolong lancar.
Bank akan mendata setiap nasabah dan akan membantu meringankan debitur dengan beberapa skema restrukturisasi sesuai dengan kondisi debitur.

Kebijakan yang menjadi kewenangan kantor cabang akan langsung dibuat, sedangkan kebijakan yang berada di bawah kewenangan kantor wilayah atau kantor pusat akan segera diajukan dengan beberapa alternatif, sesuai dengan kondisi nasabah. Seperti penundaan pembayaran atau perpanjangan jangka waktu pembayaran. (bs/01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here