Home Ekonomi Sapi Terlantar, PEPEHANI Ancam Demo, Gubernur Beri Perhatian

Sapi Terlantar, PEPEHANI Ancam Demo, Gubernur Beri Perhatian

220
0

Sumbawa Besar–Gubernur NTB–Dr. Zulkieflimansyah, turun tangan menyelesaikan persoalan para pengusaha ternak
yang tergabung dalam Persatuan Pedagang Hewan Nasional Indonesia (PEPEHANI) Kabupaten Sumbawa.

Bang Zul sapaan Gubernur NTB, bertolak dari Mataram Jum’at (15/02/2019) khusus menemui para pengusaha tersebut.

Setiba di Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin Sumbawa, Bang Zul menggelar pertemuan mendadak dengan para pengusaha.

Upaya ini dilakukan mengingat sekitar 500 ekor ternak sudah hampir seminggu berada di Stasiun Karantina Badas karena tidak dapat dikirim ke luar daerah.

Persoalan tersebut muncul karena Dinas Peternakan Pemprov NTB menghentikan ijin pengiriman ternak.

Sehingga para pengusaha berencana akan menggeruduk Dinas Peternakan NTB di Mataram. Rencana aksi tersebut akhirnya diurungkan karena respon Gubernur yang turun langsung bersama Sekretaris Dinas Peternakan NTB.

Mengenai masalah ini, Sekretaris PEPEHANI Sumbawa, Rusdi Darmawansyah menjelaskan bahwa sejak Senin (11/02/2019), Dinas Peternakan NTB menghentikan ijin pengiriman ternak hidip dari Sumbawa ke Pulau Lombok.

PEPEHANI kata Rusdi pun berusaha berkomunikasi dengan Kadis Peternakan NTB. Namun jawaban Kadis adalah menghentikan pengiriman. Tak ayal para pengusaha pun gundah gulana karena ternyata Dinas Peternakan NTB di satu sisi mengizinkan pengusaha itu untuk melakukan pengadaan ternak di lapangan dan proses pengiriman tetap dilakukan meskin ijin belum diterbitkan.

Acuannya kata Rusdi yakni SK penetapan kuota pengiriman yang diterbitkan Desember 2018 lalu yang jumlahnya mencapai 16 ribu ekor ternak.

Dia menekankan bahwa saat itu pihaknya menuntut kalau memang ijin mau distop, batalkan dulu SK kuota yang sudah ditetapkan.

“Pemerintah sepertinya ambigu, SK kuota sudah dikeluarkan tapi ijin pengiriman tidak diterbitkan,” tukas Rusdi.

Menurut Rusdi bahwa akibat tidak diterbitkannya ijin pengiriman, sekitar 500 ekor ternak yang berada di Karantina Badas menjadi terlantar sejak Senin kemarin. Imbasnya pengusaha ternak mengalami kerugian karena harus menyiapkan pakan.

Para pengusaha pun menyuarakan keluhannya melalui media sosial yang langsung direspon Gubernur NTB.

Ketika itu Gubernur meminta para pengusaha hadir pada Jumpa Bang Zul–Rohmi yang digelar setiap Jumat pagi yang kebetulan tadi digelar.

Namun mereka enggan hadir karena menurutnya persoalan itu bukan masalah kecil dan tidak bisa didiskusikan di forum umum seperti itu, melainkan harus dibahas secara khusus.

“Kami mencoba menghubungi Ibu Kadis Peternakan via telepon seluler tapi tidak diangkat. Kami pun sepakat untuk berangkat ke Mataram tapi bukan untuk menghadiri Jumpa Bang Zul Rohmi melainkan menggelar aksi demo,” imbuhnya.

Mendadak tadi malam Gubernur menghubungi salah satu anggota PEPEHANI agar dapat menemuinya di Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin. Dalam pertemuan itu, Rusdi memahami arah program pemerintahan Zul Rohmi bahwa ke depan adalah industry peternakan.

Pada prinsipnya, Rusdi menyatakan PEPEHANI sangat welcome dengan program tersebut yaitu pengiriman daging.

Karena pengiriman ternak dalam bentuk daging ini akan membuka lapangan kerja bagi yang lainnya. Namun kebijakan ini tidak boleh serta merta diberlakukan, harus ada tahapan dan proses karena pasarnya harus terbentuk dulu.

Pada pertemuan itu Gubernur memberikan solusi bahwa ratusan sapi di Karantina Badas harus segera dikirim dan memerintahkan Kadis Peternakan untuk menerbitkan izin.

Gubernur juga meminta agar kuota pengiriman yang sudah ditetapkan harus dihabiskan sehingga tahun depan tidak ada lagi pengiriman ternak hidup melainkan dalam bentuk daging.

Selain itu Gubernur menekankan para pengusaha yang tergabung dalam PEPEHANI menyiapkan prosesing ke arah pengiriman daging.

Bagi pengusaha yang tidak beritikad berproses ke arah tersebut diberikan sanksi dengan menyetop perizinannya.

Terakhir Gubernur meminta agar setiap pengiriman untuk menyisihkan infaq 2,5% bagi kepentingan masjid dan pondok pesantren.

“Kami sepakat dengan semua yang diminta Gubernur,” ucap anggota PEPEHANI, Ahmad Aron.

Ditambahkan Rahmad Aron, bahwa sebenarnya pengusaha ternak memiliki konstribusi yang cukup besar untuk daerah. Setiap pengiriman per ekor sapi dikenakan retribusi sebesar Rp 105 ribu.

Tidak heran jika PAD dari pengiriman ternak ini per tahunnya mencapai Rp 2 milyar. Sebab setiap hari pengiriman rata-rata 75 ekor. (bs/01)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here