Home Sosial Budaya Hasil Produksi Tenun Lokal Kre Alang Khas Sumbawa Go Internasional

Hasil Produksi Tenun Lokal Kre Alang Khas Sumbawa Go Internasional

188
0

Sumbawa Besar-Sumbawa memiliki banyak kerajinan tangan yang bernilai jual tinggi dan merupakan kerajinan karya peninggalan nenek moyang yang hingga kini masih tetap terpelihara dan dilestarikan.

Salah satu kerajinan tangan yang masih tetap eksis hingga kini adalah “Kre Alang” (kain tenun songket khas Sumbawa) yang sentra kerajinannya berada di Desa Poto, Kecamatan Moyo Hilir, Sumbawa Besar. Kre’Alang biasanya sepanjang 4 meter x 60 cm dijual per setnya hingga Rp. 1.500.000 (Satu juta lima ratus ribu rupiah) itu proses penenunannya dilakukan kurang lebih selama satu bulan dengan ciri khas motif Sumbawa seperti kembang langit, kemang setange, lonto engal, kuku macan dan pusuk rebong.

Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Sumbawa sekaligus sebagai Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Hj. Amien Rahmani yang diwawancarai media ini saat pembukaan Pelatihan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) bagi IKM Kabupaten Sumbawa di Hotel Parahiyangan Sumbawa, Senin (23/09/2019) mengatakan kerajinan tenun khas Sumbawa ini harus tetap dilestarikan, dengan adanya pelatihan yang diadakan saat ini membuktikan bahwa pemerintah memiliki perhatian khusus untuk kelestarian kerajinan tenun khas Sumbawa seperti kre’ alang atau kre’sesek ini.

Bukti keperdulian pemerintah saat ini adalah dengan mewajibkan setiap ASN yang ada dilingkup Kabupaten Sumbawa untuk memakai tenun khas Sumbawa ini setiap hari kamis.

“Untuk mendorong UKM Sumbawa terutama tenun khas sumbawa ini, saya selaku ketua Dekranasda lebih pro aktif mensosialisasikan kepada seluruh masyarakat Kabupaten Sumbawa minimal masyarakat lebih mencintai produk hasil karya kerajinan Kabuparen Sumbawa sendiri,” jelas Rahma (Sapaan akrab Ketua PKK Sumbawa ini).

Sejauh ini, pemasaran Kre’Alang telah dikenal bahkan hampir semua masyarakat Sumbawa telah memiliki Kre’Alang, dikenal di nasional bahkan telah Go Internasional sampai ke Darwin karena Kre’Alang karya kerajinan Sumbawa ini memiliki ciri Khas motif tersendiri yang berbeda dengan kain-kain dari Kabupaten lain yang ada di Indonesia.

“Kelemahan pada Kre’Alang Sumbawa hanya saja belum memiliki hak paten, sebab untuk memiliki hak paten terlalu banyak persyaratan yang mesti dipenuhi namun hal itu sedang dalam tahap dan juga jangan karena belum memiliki hak paten lantas dijadikan hambatan untuk tetap berkarya serta mengembangkan dan melestarikan semua kerajinan-kerajinan khas milik kabupaten sumbawa seperti Kre’Alang (Kain sesek) tersebut ini,” terang Rahma.

Ditempat yang sama, Kepala Dinas Diskoperindag Kabupaten Sumbawa Drs. Arif, M.Si,. menambahkan bahwa kehadiran Ketua Dekranasda yang sekarang memberi aura dan spirit baru bagi kebangkiran industri kerajinan tenun Kabupaten Sumbawa dan dalam waktu tiga tahun lebih kepemimpinan Husni-Mo inilah kerajinan tenun ini benar-benar didorong, dibandingkan tahun sebelumnya bantuan APBN itu gagal total dan tidak pernah ada program-programnya, sekarang kerajinan ini diangkat kembali.

“Kerajinan tenun Kre’Alang khas Sumbawa ini dibuat secara tradisional dengan lebar 60 Cm maka bila menjadi kain (kre’) sambung dua jadi cirinya yang menandakan kain itu palsu adalah tidak menyambung serta kain asli Sumbawa itu padat dan tebal, untuk Hakci sendiri kain sumbawa tidak bisa membuat Hak Cipta sebab benangnya bukan benang kwintal tetapi benang jadi namun yang bisa kita buat adalah Hak atas kekayaan intelektual, hak komunitas namanya,” tegas Arif (Sapaan akrab Kadis Diskoperindag Sumbawa ini).

Sedangkan kekayaan dari pembuatan kre’Alang Sumbawa ini dibuat dengan sakral, ketika yang lain orientasi kasar maka pembuatan kre’Alang Sumbawa sarat dengan nilai, sakral artinya tidak sembarangan cara buatnya sebab tidak menggunakan mesin melainkan secara manual oleh karena itulah kain atau Kre’Alang Sumbawa ini menjadi mahal serta motif-motif yang adapun memiliki makna yang dalam dan sakral.

“Hingga saat ini, Kabupaten Sumbawa telah memiliki sekitar 200 lebih penenun yang tersebar dibeberapa kecamatan. Jumlah tersebut diupayakan akan terus bertambah dengan dilakukannya beberapa pelatihan terhadap masyarakat yang ingin belajar menenun namun untuk kali ini pesertanya terpusat hanya dari Dusun Bekat Desa Poto Kecamatan Moyo Hilir saja dan pelatihnya adalah instruktur tenun dari Lombok,” tutup Arif. (bs/ril)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here